BEDA TAPI CINTA

Assalamualaikum guys..

Saya Alisa purnama sari, kelas 12 ipa 4 membuat karangan Novel sejarah Tugas Bahasa Indonesia.

" Selamat membaca teman - teman!"

1. PERMULAAN 

“ PERASAAN KITA SAMA, TAPI SAYANG TUHAN KITA BEDA.”

Tahun 2016 silam di SMAN BANDUNG ada seorang ketua basket yang sosoknya dewasa, friendly dan tegas. Laki - laki dengan bandana yang melekat di lengan kiri seragamnya. 

Dia Samuel Dirgantara.

Samuel bukanlah cowok yang mudah suka dengan seseorang. Hingga pada suatu hari, ia dipertemukan dengan seorang gadis berhijab sedang membawa buku menuju perpustakaan sekolah.

Dia Aluna humaira,

seorang gadis yang anggun, baik, ramah dan sopan. Sekaligus teman baru Samuel dikelas X IPA 2. Mereka berdua satu kelas. 

Rumit, satu kata yang mengisahkan kisah cinta antara dua insan manusia.

Luna suka Samuel

Samuel juga suka Luna.

Tapi mereka sadar, ada tembok tinggi yang menghalangi mereka.

Ketika tasbih dijemari harus bersanding dengan seutas kalung salib yang menggantung dilehernya. 

Bagaimana pun Shalom bukan jawaban dari Assalammualaikum.

Kau mengangkat kedua tanganmu kala berdoa. Dia mengatupkan seluruh jemarinya.  

Kalian berbeda, tapi jatuh cinta. Namun ,cinta itu begitu kuat.  

Luna dan Samuel beda agama, membuat keduanya harus menjalani hubungan yang terlarang. Puing-puing permasalahan pun silih berganti menghampiri mereka.

2. PERNYATAAN MENGEJUTKAN 

Awal mula kisah percintaan mereka bersemi, ketika keduanya sudah menginjak kelas 12. Samuel dengan gentelnya menyatakan perasaannya kepada Luna di perpustakaan sekolah. 

Samuel dengan langkah tegasnya menuju perpustakaan dengan membawa sebuah kotak berwarna biru dan sebatang coklat menghampiri Luna yang sedang menulis di pojokan dekat jendela perpustakaan.

Luna awalnya terkejut dengan kedatangan Samuel, tetapi dia bisa mengontrol keterkejutannya. Samuel duduk di samping Luna dan berdehem guna menetralkan kegugupannya.

“ Ehkem….Luna, kamu masih lama ngerjain tugasnya ?” ucap Samuel.

“ Engga el bentar lagi beres kok, emangnya ada apa ?” balas Luna.

Aluna menaikkan satu alisnya, menunggu hal apa yang akan Samuel katakan kepadanya.  

Samuel menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan - lahan.  

“Aluna, apakah kamu mau jadi kekasihku?...”

Luna tampaknya agak syok atas ucapan Samuel barusan.Ia diam seribu bahasa dan belum ada niatan untuk membuka suara.  Samuel menunggu jawaban yang akan di lontarkan luna atas pernyataan perasaannya  tadi. Cukup lama mereka terdiam membisu.

” Samuel apakah kamu serius menyatakan perasaanmu padaku?...” ujar Luna.

3. KITA 

Degupan jantung Samuel semakin menggila dikala ia menatap mata yang berwarna coklat terang itu. Samuel meremas jarinya sendiri dan menarik nafas kembali guna menetralkan kegugupannya.  

“  Aluna Humaira apakah kamu mau jadi kekasihku?... ucap Samuel mengulang kata- katanya dengan suara tegas dan lugas.

Sebenarnya Luna sudah menyukai Samuel dari awal mereka masuk sekolah, bisa di bilang Luna menyukai Samuel pada pandangan pertama.

Aluna hanya bisa memendam perasaannya selama kurang  lebih 2 tahun. Dia sadar ada tembok tinggi yang menghalangi mereka, tapi perasaan tidak bisa diatur akan jatuh kemana dan kesiapa bukan. Rasa suka muncul tiba tiba,  dan rasa cinta muncul karena terbiasa. Aluna sering bertemu dan berinteraksi dengan Samuel karena mereka berdua teman sekelas. Mungkin itulah pemicu muncul rasa suka menjadi cinta diantara keduanya.

Samuel memberikan sebuah kotak dan sebatang coklat yang dibawanya kepada Luna.

“ jika kamu menerimaku maka ambilah kotak yang ada di tangan kananku. Tapi kalo kamu menolakku, maka ambil coklat yang ada di tangan kiriku.”

Keringat dingin terus mengucur di dahi Luna dan juga tangannya gemetar. Luna tidak tahu harus melakukan apa karena dia sendiri masih syok atas perlakuan Samuel. Luna mencoba menetralkan degupan jantungnya yang berdegup kencang dengan menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan- lahan.

Luna agaknya ragu ingin menjawab, dia terus menatap kedua tangan Samuel. Ia menimang- nimang akan mengambil benda apa. Satu sisi, Luna senang karena crushnya ternyata menyukainya juga. Tapi dilain sisi Luna harus sadar ada satu hal yang tidak mungkin bersatu.

Dari hati yang paling dalam Luna ingin menerima perasaan Samuel. Akan tetapi Luna harus siap menerima segala resiko yang akan terjadi karena menjalani hubungan berbeda keyakinan.  Keputusan Luna sudah bulat. Ia memejamkan mata nya sebentar, lalu membukanya perlahan dengan mengucapkan basmallah di dalam hati ia menjawab 

“ Aku Aluna Humaira mau menjadi kekasihmu Samuel Dirgantara. “ 

Lalu ia mengambil sebuah kotak di tangan kanan Samuel.Setelah mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Luna, Samuel seperti menjadi manusia paling bahagia karena cintanya kepada Luna terbalaskan. Samuel berdiri dan secara tidak sadar memeluk Aluna dengan mengatakan

“ Terimakasih tuhan yesus.”

Aluna masih kaget atas perlakuan Samuel kepadanya dan juga merasa tertampar setelah sadar apa yang diucapkan Samuel barusan.

Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Aluna

“ maafkan hambamu ini ya allah “ ucap Luna dalam hati.

Sejatinya memang perasaan tidak bisa dibohongi, begitupun perasaan Luna kepada Samuel.

Untukmu agama mu, untukku agamaku. Dan cinta kita untuk kita. Berbeda bukan berarti tidak bisa bersama. Cinta itu tidak pandang apa - apa, siapapun yang kita cinta, berarti kita siap terima gelap terang hidupnya.  Cinta itu perjuangan, perjuangkan dia walaupun kita berbeda.  

Luna melepaskan pelukannya. Samuel pun lantas meminta maaf atas tindakannya kepada Luna yang seenak jidat memeluk Luna.  

“ Aluna coba buka kotak itu!” perintah Samuel.  

Luna menurutinya dan mulai membuka kotak tersebut, deg… ia merasa perasaannya campur aduk antara senang, sedih , dan sedikit gelisah.  

Ternyata yang Samuel berikan kepadanya adalah sehelai kain yang selama ini Aluna pakai untuk menutupi rambut, leher, hingga dadanya. Yaitu hijab indah berwarna hitam.  

“ Aku ingin melihatmu memakai itu Luna, pasti akan sangat cantik bila di pakai olehmu.”

Seketika Luna merasakan pipinya memanas karena ucapan Samuel kepadanya. Samuel menyadari ada perubahan di pipi Aluna, gadisnya blushing. Cantik satu kata yang diucapkan Samuel dalam hati.

4. EUFORIA 

Satu tahun sudah Aluna dan Samuel menjalani hubungan beda agama. Sejauh ini hubungan mereka terlihat baik- baik saja. Samuel dan Aluna selalu memegang teguh kepercayaannya masing- masing, memberikan pelajaran tentang bagaimana kepercayaan tidak bisa digoyahkan dengan alasan apa pun juga karena itu menyangkut hubungan seseorang dengan tuhannya.

Samuel, dia teramat baik. Dia selalu mengingatkan Luna untuk beribadah begitupun sebaliknya.  Dia mendukung Luna dan selalu memperlakukannya dengan baik dan lembut.  Bagaimana bisa Aluna melepaskannya. Dengan siapa lagi Aluna bisa merajut kisah cinta yang indah jika bukan dengannya, yang begitu menghargai perbedaan.

Penuh harap , Aluna ingin terus berada di samping Samuel untuk selamanya. Di sebuah mobil, Samuel duduk di balik kemudi dan Luna duduk di sampingnya memperhatikan segalanya.  

Tangan kanan Samuel mengendalikan kemudi, tangan kirinya yang mengenggam sebelah tangan luna.  Matanya yang fokus memandang jalan yang penuh hambatan. Mereka menuju sekolah untuk menghadiri acara kelulusan. 

Setibanya di sekolah, mereka beriringan menuju ballroom tempat diadakannya acara. Mereka bergabung dengan sejawatnya dan menikmati acara tersebut dengan perasaan senang dan sedih karena setelah ini mereka akan meraih cita- cita masing- masing dengan melanjutkan pendidikan ke tempat yang berbeda-beda .  

Aluna yang berkeinginan menjadi seorang dokter akan melanjutkan studi nya di Universitas  Islam Bandung ( UNISBA ) dan Samuel yang ingin menjadi seorang pilot mengikuti jejak ayahnya di BPA Bandung Pilot Academy. Setelah acara di sekolah sudah selesai, acara terakhirnya sesi pemotretan tiap kelas dan semua angkatan.  

5. DETIK – DETIK 

Samuel berniat membawa Aluna ke rumah dan berjumpa dengan ayah bundanya. Karena selama menjalin hubungan Luna belum pernah diajak kerumah Samuel. Bukan Samuel yang melarangnya tetapi Luna yang selalu menolak ,dia berkeinginan bertemu mereka disaat sudah lulus sekolah.  

Dan inilah waktunya, Minggu pagi Aluna menunggu Samuel di rumahnya, ia berpakain rapi dan fashionable dengan rok berwarna coklat dipadukan dengan blazer senada tak lupa dia memakai hijab yang di berikan samuel waktu pertama jadian. Aluna menunggu samuel menjemput setelah ia selesai beribadah.

Jumat adalah hariku. Minggu adalah harimu. 

Begitulah salah satu kerumitan kisah cinta mereka.

Samuel datang dan keduanya langsung berangkat menuju rumah Samuel.

Disana akan ada acara karena mengingat sekarang bulan Desember yang artinya perayaan hari natal.

Hati Aluna resah dan gelisah, dikepalanya bermunculan pikiran- pikiran negatif. Apakah keluarga Samuel akan menerimanya atau tidak karena kita berbeda. Dari awal Luna sudah siap menerima resikonya dan mungkin ini saatnya keteguhan dan ketegaran hatinya diuji.  Samuel menyadari kegelisahan yang aluna alami saat ini. Dia mencoba menenangkannya dengan menyatukan jemari mereka dan mengusap- usap punggung tangan Luna dengan jempolnya.

“ Semua akan baik - baik saja , percaya sama aku.” Ucap Samuel berusaha menenangkan Luna.  Aluna hanya mampu menggangguk saja, berusaha percaya dengan perkataan kekasihnya.  

Meraih restu adalah salah satu tantangan yang perlu dilalui dalam lika- liku cinta.  Cinta tanpa restu bagai kapal yang terombang- ambing.  Apalagi mereka yang melawan restu Tuhan. 

Dengan keberanian yang sekecil biji jagung, Aluna melangkah ke dalam dengan Samuel yang setia ada di sampingnya. Begitu sampai, semua orang mengalihkan tatapannya kepada gadis yang berjilbab hitam yang mengucapkan salam.

LDR terjauh ketika Assalamualaikum dibalas dengan Shalom. 

Semua serempak membalas salam Luna. Samuel sempat terhenyak dengan perbedaannya dengan Aluna. 

Cinta diciptakan untuk menyatukan perbedaan. Meski agama yang menjadi perbedaannya.

6. YANG DI TAKUTKAN

Lima bulan kemudian….

waktu terus berjalan, setelah pertemuan Aluna dengan keluarga Samuel hubungan keduanya mulai goyah.  Sejak awal mereka tidak pernah membahas soal agama, selalu mengerti satu sama lain. Tetapi begitu mulai masuk kuliah dan usia juga beranjak dewasa, mulai ada pembicaraan soal gimana kelanjutan hubungan mereka. 

“Kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan.

”Siapa yang harus mengalah? Aku yang melepasmu atau kamu yang melepasku? Kita adalah seamin yang tidak akan berubah menjadi seiman.” Monolog Aluna untuk kekasihnya.  

Aluna merenung di kamarnya sendirian.  Dia teringat kembali dengan kejadian lima bulan yang lalu, saat pertemuannya dengan keluarga Samuel. Mereka menerimaku dengan baik sebagai tamu. Tapi tidak menerimaku sebagai calon menantu. 

Ayahnya mungkin masih bisa menerima Luna tapi tidak dengan ibunya yang menentang hubungan mereka. Dia seolah -olah tidak memperdulikan Luna saat bertemu dan tidak mengganggap keberadaan Luna saat itu.  Aluna merasa sosok perempuan yang tidak macam- macam, dia punya prestasi, tapi kenapa ibunya Samuel seakan- akan meremehkan kehadirannya, hanya karena Luna punya keyakinan yang berbeda.

Hal itu lumayan membuat Luna sedih dan ragu atas hubungan dengan Samuel kedepannya.

Tetapi Luna masih sangat mencintai Samuel. Dia masih ingin memperjuangkan cintanya.  Dunia ini memang terasa hampa tanpa cinta. Namun ketika cinta tidak lagi membuatmu bisa bersama, disitulah terasa betapa pahitnya menerima semua fakta yang ada.  Aluna menangis dalam diam, dia bergumam

” mengapa sesakit ini rasanya”.

Luna memutuskan untuk melaksanakan solat malam. Dia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Dalam kesunyian malam Aluna Humaira terus menangis di hadapan Tuhannya dengan beralasan kain sejadah.

” Ya Allah kupasrahkan semuanya kepada - Mu.” 

7. RASA YANG BERBEDA 

Keesokan harinya, tepat pada hari Minggu Samuel mengajak Aluna keluar untuk jalan- jalan setelah Samuel pulang beribadah. Di tengan perjalanan, adzan dzhuhur berkumandang Samuel pun berinisiatif mencari masjid terdekat untuk singgah terlebih dahulu agar kekasihnya bisa melaksanakan ibadah solat dzhuhur .  Aluna turun dan menuju masjid, sedangkan Samuel menunggunya di teras.

Ketika Samuel hendak pergi ke kamar mandi, dia menoleh ke sisi kanan, menatapnya dan mendapati Luna sedang berdoa dengan cara berbeda. Dengan pemahaman tentang ketuhanan yang berbeda. 

Di titik ini, entah bagaimana hati Samuel terasa sedih dan membatin,

” mungkin, akan lebih indah bila menemukan pendamping yang berdoa dengan cara yang sama, dengan pemahaman tentang ketuhanan yang sama.”

Kadang tuhan menguji manusia dengan cinta beda agama, hanya untuk memastikan apakah manusia lebih mencintai penciptanya atau ciptaannya. Samuel menghela nafas kasar dan melanjutkan pergi ke toilet.  

Samuel pergi ke rumah sahabatnya setelah mengantarkan Luna kerumahnya. Dia ingin sedikit berbagi keresahan itu kepada sang sahabat Alaric .

“ Al salah ya kalo saya mencintai dia?” ucapnya dengan nada putus asa.

“ Cinta itu ga ada yang salah El, sejatinya perasaan tidak bisa kita kontrol akan berlabuh kesiapa. Tapi mau sesayang apapun kamu kepada dia jangan pernah mengambil dia dari Tuhannya atau pun melepas Tuhanmu buat dia.”ucap Alaric dengan nada rendahnya sambil menepuk kedua bahu Samuel guna menguatkan sahabatnya itu.

Kemudian ia bangkit, dan meninggalkan Samuel yang terdiam kaku dengan hati tertohok. 

“Jangan berusaha memeluk sesuatu yang sudah kamu perkirakan tidak akan sanggup kamu peluk.” Ujar Alaric kembali sebelum benar- benar pergi.  

Samuel bangkit menuju balkon rumah Alaric. Dia menatap ribuan bintang yang tertebaran indah di langit.

Semilir angin malam berhembus menerpa wajah hingga membuat rambut lelaki itu sedikit berantakan. Dengan mata yang terpejam dan bibir sedikit melengkung keatas mengukir senyum yang getir, Samuel berkata 

” bilang pada Tuhanmu Aluna, aku hanya ingin mencintai umat-Nya. Bukan merebutmu dari-Nya. “ 

Setetes air bening jatuh di pelupuk mata Samuel. Itu membuktikan betapa tulusnya Samuel mencintai seorang gadis yang bernama Aluna Humaira. 

“Bagian dari diriku merasa sakit mengingat dirinya yang sangat dekat, tapi tak tersentuh.” Ia membatin.   

Laki - laki itu menarik nafas dalam- dalam dan berniat akan pulang kerumahnya.

8. TERNYATA TIDAK UNTUKKU

“Ironi ketika kita sama- sama saling mengharapkan,

tetapi takdir seolah menentang.”

- Samuel Dirgantara -

Kegiatan Aluna sebagai MABA di universitas sudah dimulai, ia kini sedang menjalankan proses ospeknya dengan membawa berbagai keperluan yang disuruh oleh senior dikampusnya.  

Begitupun dengan Samuel yang sudah mengikuti studi pilotnya dari minggu- minggu kemarin.  Mereka masih menjalin komunikasi dengan baik layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Hanya saja sekarang- sekarang ini keduanya jarang bertemu karena mengingat betapa sibuknya mereka dengan urusan masing- masing.  

Setelah proses ospek Luna selesai, dia mulai sedikit lega karena kesibukannya berkurang. Pada tanggal 19 Desember 2019, Samuel mengajak Aluna kencan untuk merayakan universarry yang ke satu setengah tahun mereka menjalin hubungan.   

Samuel sudah menyiapkan segalanya dengan mendekor meja makan dengan seindah mungkin, menata lilin- lilin di sekitaran taman dan menyiapkan sebuket Bunga mawar dan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian.  Samuel berniat melamar Luna meskipun ia tahu resikonya sangat besar mengingat adanya perbedaan diantara mereka.  

Aluna tiba dilokasi yang Samuel berikan kepadanya.  Dia tercengang dengan keberadaan lilin - lilin yang tampak indah menghiasi setiap sudut taman itu. Tak sampai disitu Aluna di buat takjub dengan seorang pria berjas hitam yang sedang duduk sambil memangku sebuah gitar.  Tak lama suara berat seseorang mengalun indah di kesunyian malam ini. Samuel bernyanyi  lagu for the rest of my life untuk kekasihnya.  

Aluna menitikan air matanya ketika mendengar suara Samuel.  Dia merasa sedih senang bercampur menjadi satu. Samuel turun dan menghampiri Luna, ia berlutut di hadapannya sambil membuka sebuah kotak cincin yang dibawanya. 

“ Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama.  Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu.  Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi.  Bermunajat pada Tuhan untuk menetukan pilihan yang paling tepat.  Berkali- kali ku tanya pada hatiku sendiri.  Sudah tepatkah pilihanku? Beragam, bukan berarti bebeda.  Berwarna, bukan berarti tak sama. 

Kita bersatu karena perasaan. 

Aluna Humaira apakah kamu mau menjadi pendampingku selamanya, apakah kamu mau menjadi tunanganku?”

Ucap Samuel yang melamarnya membuat Luna mati kutu, dia bingung harus mengatakan apa. 

Niat bertemu Samuel ingin mengatakan satu hal yang penting tetapi dia terlebih dahulu di beri kejutan yang tak terduga ini. Perlahan-lahan luna mengambil nafas dan menghembuskannya kembali.  

“ Samuel Dirgantara yang kita lakukan sejak awal memang sudah salah.  Kita beda. Karena memang sesungguhnya, manik- manik tasbihku tetap berbeda dengan manik - manik rasiomu.  Aku selalu berpikir, kenapa aku harus dipertemukan dengan seseorang yang benar- benar aku cintai, tapi kita dibedakan dengan keyakinan.  Kenapa kita tinggal di Negara Bhinneka tunggal ika yang menghargai perbedaan, tapi tak bisa menyatukan dua agama yang berbeda.  Agamaku melarang ini dengan nyata. Keluagamu pun menentang. “

Hembusan nafas Aluna tercekat karena air matanya terus mengalir deras. Tekad dia sudah bulat mungkin ini jalan yang terbaik untuk keduanya. 

 “ Melepasmu memang sungguh menyakitkan, mungkin memang tak semua yang dicintai harus dimiliki.  Malam ini, di tempat ini dan detik ini juga aku melepasmu dan mengikhlaskanmu Samuel untuk bisa mencintai seseorang yang sama denganmu.” Ucap Luna meneruskan kata- katanya yang sempat terhenti. 

Bagai tersambar petir di siang bolong, Samuel mematung atas perkataan yang Luna lontarkan.  Dia, laki- laki itu menitikkan air matanya.  “ kenapa?” hanya kalimat itu yang akhirnya keluar dari mulut Samuel.  Aluna diam, hatinya memang sepenuhnya masih milik Samuel.

Apa yang akan kalian lakukan jika kalian berada diantara dua pilihan. Desakan demi desakan selalu didapati Aluna dari kedua orang tuanya yang selalu berusaha menjodohkannya dengan orang lain, juga ibunya Samuel selalu meneror Luna agar secepatnya meninggalkan Samuel.  Begitu tersiksa bukan menjadi seorang Aluna.

“ Apakah aku harus meninggalkan Tuhanku, dan menjadi umat Tuhanmu supaya kita bisa selalu bersama?” ujar samuel dengan tatapan kosong kedepan.  

Tentu saja Aluna langsung menolaknya. Gadis itu bersusah payah menahan isakannya agar tak pecah. Aluna menangkup wajah Samuel mengusap pipinya dengan lembut.  Luna menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan apa yang dikatakan Samuel.  

“ jangan , jangan bodoh Samuel.  Jangan pernah meninggalkan Tuhanmu demi aku. Pikirkan kedua orang tuamu, mereka akan sangat kecewa kepadamu.

Terkadang Tuhan hanya mempertemukan bukan mempersatukan. Kita sudah tahu, aku dan kamu memiliki jalan yang akan berujung luka. Kita adalah istiqlal katedral yang ditakdirkan bedampingan.  Hanya sekedar berdampingan. Tidak ditakdirkan untuk bersama. Ketika kamu keluar dari gereja katedral, ketahuilah bahwa aku pernah menjadi orang yang berusaha menikungmu di sepertiga malam, mengirim doa untukmu dan berharap Tuhan mengizinkan, dan menjadi seseorang yang pernah membayangkan menua bersamamu suatu hari nanti. Ketahuilah, bahwa disini aku hanya berharap suatu hari nanti kamu menemukan sesorang yang mencintaimu lebih dari aku, sang istiqlal yang setiap hari mencintaimu. ” Ucap Aluna berusaha memberi penjelasan kepada Samuel. 

9. MAAF, AKU PAMIT  

Aluna memeluk Samuel untuk terakhir kalinya, dan memberikan sebuah tasbih kepadanya.

“Ini untukmu sebagai tanda perpisahan kita. Jaga baik-baik ya. Kamu juga harus jaga kesehatan, dan jangan lupakan aku yang pernah singgah dihatimu walaupun sebentar.” Senyum Luna terbit kala sudah selesai mengatakan itu dengan hati yang terluka. Samuel menghela nafas dan berkata 

“ Aku menghargai keputusanmu, kamu berhak menentukan jalan hidupmu sendiri.  Aku ikut bahagia semoga kamu mendapatkan laki- laki yang seiman denganmu dan menjagamu dengan baik. Terima kasih Aluna, kamu sudah mengisi hari- hariku selama ini. Ada cinta segitiga antara aku, kamu dan tuhan.  

Yang seagama aja berat, gimana yang beda? “

Samuel terkekeh dengan kata- katanya sendiri mencoba menghibur suasana hatinya  yang nampak sedih ini. 

“ Jaga diri kamu baik - baik Samuel sang katedral, aku Aluna sang istiqlal akan selalu mencintaimu.”   

Aluna melangkah menjauh dari samuel dan meninggalkannya. Sebelum benar- benar pamit Luna sempat menengok ke belakang dan mengucapkan “ Assalamualaikum.”

Samuel menggigit erat bibir bawahnya menahan agar suara tangisnya tak sampai keluar. “Kamu juga Luna, salam” balas samuel. 

Samuel memandang sendu kearah punggung Aluna yang semakin menjauh darinya.  Laki- laki itu menarik nafas dalam - dalam, ia tak pernah menyangka ending dari kisahnya akan berakhir seperti ini.  Salahkah jika ia berharap kisahnya berbeda dari kebanyakan kisah cinta beda agama lainnya?

Ternyata apa yang dibayangkan tak seindah kenyataan, nyatanya beda agama memang sangat menyakitkan.  Dulunya ia sempat berpikir bahwa tak semua kisah itu endingnya akan sama, namun semua itu salah, kebanyakan orang yang terlibat cinta beda agama itu akan berakhir dengan perpisahan.  

Cinta bisa menjadi kisah yang indah, bahagia, penuh tawa, sedih, sesak, sehingga menjadi ironi.  Rasa cinta bagi masing - masing orang memang berbeda dan bisa sangat rumit. Terlebih jika pasangan tersebut terjebak dalam sebuah perbedaan yang begitu sensitif di masyarakat.  

Rasa sayang dan cinta yang dibalut dalam perbedaan keyakinan memiliki masalah yang berbeda dibandingkan kisah cinta pada umumnya. Cinta beda agama bukan hanya berusaha menyatukan dua pribadi dan budaya yang berbeda, namun juga melibatkan keyakinan, yang seringkali mendapat pertentangan.  Belajar untuk merelakan dan ikhlas akan membuatmu lebih dewasa dan mampu kembali menatap masa depan tanpa beban masa lalu.  

10. DIA YANG PERNAH SINGGAH 

Dua tahun kemudian…

Waktu terus berjalan semakin lama semakin cepat, kebahagiaan yang dirasa oleh gadis anggun itupun seolah memudar.  Bagaimana tidak? Sudah dua tahun lamanya dia berpisah  

dengan lelaki yang berhasil membawa separuh hatinya pergi. Bisa di bilang Aluna gagal move on.  

Ia menatap sedih lembar demi lembar album foto kenangannya bersama si mantan. 

Dengan ditemani derasnya hujan, dia teringat akan sebuah keputusan terbesar dalam hidupnya.  Mengatakan selamat tinggal untuknya.  Meskipun mereka putus dengan baik - baik, keduanya tak pernah berhubungan lagi.  Mungkin ini adalah yang terbaik piker Aluna.  

“ Kepada kamu yang pernah singgah dan berlabuh dihati, selamat berbahagia, ya.  Hari ini aku kembali mengatakan terimakasih atas kenangan kita yang pernah terjadi dimasa lalu.  Kisah kita saat ini telah selesai dan biarlah kisah kita menjadi kenangan kecil, pertanda bahwa pernah ada sesuatu diantara kita” ucap Luna sambil menatap foto Samuel Dirgantara.  

TAMAT.

“Biarlah seperti itu.  Aku tidak peduli, selama kau ada disini, meski bukan menjadi satu denganku, ketahuilah aku adalah umat yesus yang selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.”

-Samuel Dirgantara, sang Katedral-

“ Maka,ketahuilah juga, aku adalah hamba Allah yang pernah selalu menikungmu disepertiga malam, berharap yang terbaik untuk kita, berharap bisa bersamamu hingga menua. Sayangnya tuhan tidak mengizinkan. Tapi aku sudah merasa cukup, tuhan mengizinkan untuk mengirimmu doa supaya kamu bahagia dan baik - baik saja. Hanya itu, dan aku sudah cukup.

-Aluna Humaira, sang Istiqlal-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paragraf

Tugas Nyanyi Bahasa Indonesia

Biodata Diri!!